Another Saengil Chukkae!

kibum (1)

Entah apa yang terjadi pada Seunghee kali ini, mungkin ia sudah tertimpa tiga kesialan terburuk tahun ini dalam satu hari. Atau mungkin kesialan kesialan lain masih menunggunya. 

“Halo ‘bum, sudah sarapan? Kalau belum ayo kita…”

“Tolong jangan ganggu aku dulu. Aku akan menghubungimu nanti,”

PIP!

Teleponnya tiba-tiba diputus oleh pacarnya di seberang sana yang ia juga tidak mengerti ada apa dengannya pagi ini. Kibum itu sampai saat ini masih menempati posisi pacarnya yang paling dingin dan jahil juga tidak romantis. Seunghee juga tidak terlalu mengerti kenapa ia mengencaninya. Cinta, mungkin?

Kembali menekan layar touchscreennya, kali ini sahabatnya, Amber.

“Hai Amb, kau dimana?”

“Di rumah, kenapa? Aku tidak boleh keluar hari ini. Kris akan ke rumah katanya,”

Sepertinya ide Seunghee untuk mengajaknya keluar sudah ditolak.

“Oh begitu? Yasudah selamat bersenang-senang dengan Kris, bye.”

“Aku akan menghubungimu nanti, bye.”

Okay, kali ini ia benar-benar sendiri.

Seunghee menyeret kakinya berat keluar dari gedung perkuliahan. Ke kampus pada saat libur musim dingin baru saja dimulai terasa aneh, seharusnya ia sekarang berada di rumah, bercengkrama dengan selimut dan cemilan. Oh indahnya dunia.

Setidaknya sampai kesialan-kesialan yang menimpanya berakhir ia akan bertahan sebentar lagi di luar rumah.

Ngomong-ngomong soal kesialan, Seunghee sudah tertimpa tiga bencana tahun ini. Ini perkiraannya. Tadi pagi, sepatunya rusak secara tiba-tiba dan tak diketahui sebabnya dan menyebabkannya harus berjalan beberapa blok dengan menggunakan slipper untuk meminjam sepatu ke rumah sepupunya. Saat melintasi taman, seorang anak dengan sepeda hampir saja menabraknya hingga ia harus menghindar dan berakhir mencium aspal. Tidak hanya sakit, tapi rasa malu yang ia tanggung karena ditertawakan belasan anak kecil dan ibu-ibu yang menunggui mereka bermain.

Belum selesai, tugas yang sudah merenggut masa-masa santainya tiga hari kemarin ditolak oleh dosennya yang agung. Terlambat menjadi satu alasan kuat kenapa tugas itu ditolak. Ia juga kena semprot dosennya dan diminta mengerjakan uang semua tugasnya dan menambahkan lima puluh halaman ke dalamnya. Inspirasinya saja sudah hilang dibawa angin panas yang dihembuskan dosennya ketika menjejalinya dengan berbagai kata-kata kemarahan sejak tadi.

Tapi seperti keyakinannya, ia akan berada di luar rumah setidaknya beberapa waktu lagi. Yeah! Besok hari ulangtahunnya. Mengingatnya saja membuatnya ingin buru-buru meniup lilin dan membuka kado. Walaupun ia tidak tahu apakah tahun ini ia mendapat kado atau tidak.

Kali ini ia melangkahkan kakinya menuju bakery dekat apartemennya untuk membeli cake. Daripada ia tidak dapat cake sama sekali, lebih baik ia membelinya sendiri.

“20.000 won,”

Seunghee merogoh kantongnya dan menemukan selembar uang 5.000 won. Ia lalu meraba-raba tasnya mencari dompetnya. Sial, pasti tertinggal.

“Saya beli cupcake yang itu saja,”

“Ah, ne. 5.000 won,”

Untung saja cukup.

Ia mendorong pintu bakery perlahan sampai ia sadar akan suatu hal dan menghela nafas. Saljunya deras sekali dan ia lupa membawa payungnya. Sebenarnya apa saja isi tasnya? Terpaksa ia berjalan menuju apartemennya dengan salju dingin yang menyerang dirinya.

Seunghee buru-buru membuka pintu apartemennya karena ia mulai tidak merasakan ujung jarinya. Ia harus menyalakan lampu dan pemanas ruangan.

Sht. Listriknya mati.

Seunghee langsung meletakkan cupcakenya di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia mengambil selimut tebal dan membungkus badannya dengan selimut dengan erat.

Tok tok.

Siapa yang datang? Apa itu Amber? Kibum?

Seunghee berjalan bersemangat menuju pintu dan membukanya.

“Eh, paman.”

Bukan.

“Apa di rumahmu juga mati listrik?”

“Iya, disini mati. Apa di rumahmu juga paman?”

“Mm, sepertinya listrik seluruh apartemen sedang bermasalah. Aku akan mengeceknya ke bawah,”

“Yasudah. Terimakasih paman.”

Mungkin ekspektasinya yang terlalu tinggi tentang ulang tahunnya. Ia mengharapkan sahabat dan pacarnya ada di sekelilingnya menemaninya melewati pergantian usianya. Karena ekspektastinya, ia lupa kesialan yang sedang ia jalani hari ini. Ia baru sadar kalau faktanya, kesialan itu belum berhenti menimpanya.

Seunghee benci gelap dan sendirian. Karena itu ia tetap membuka gordennya lebar-lebar dan tetap berada di dekat lilin yang menancap di cupcakenya. Baterai ponselnya habis dan ia tidak bisa menemukan senter atau lampu emergency miliknya.

“Happy birthday to me… Happy birthday to me… Happy birthday happy birthday happy birthday…”

“…Seunghee”

Seunghee menolehkan kepalanya kaget saat mendengar suara berat bergabung bernyanyi bersamanya. Itu tidak mungkin hantu ‘kan?

“Happy birthday Seunghee,” ujar suara berat itu di depan lilin sehingga terlihatlah wujudnya.

Kibum.

Seunghee langsung meniup lilinnya cepat dan memeluk Kibum erat.

“Hey, aren’t you have to make a wish first?”

“Whatever.” Seunghee masih membenamkan kepalanya di dada Kibum.

Kibum hanya tertawa kecil dan mengusap rambut Seunghee lembut.

“Ada apa denganmu tadi pagi? Kenapa tiba-tiba marah?” tanya Seunghee seraya melepaskan dirinya.

“Huh? Memangnya aku kenapa? Memangnya kau bertemu denganku dimana?”

“Tadi pagi aku menelepo… Euh, jangan bilang padaku kau baru bangun siang hari?”

“Yeap. Aku benci musim dingin, untuk apa bangun pagi-pagi?”

Jadi pagi tadi ia menelepon Kibum yang masih berpetualang di negeri mimpinya. Dasar maniak tidur.

Ponsel Kibum berdering keras. Kibum buru-buru mengangkatnya lalu tiba-tiba menyerahkan pada Seunghee.

“HAPPY BIRTHDAY YOON SEUNGHEE!” teriakan khas di ponsel Kibum membuatnya menjauhkan posel itu dari telinganya.

“YAK! Amber Liu! Bisakah kau kecilkan suaramu sedikit?”

“Tidak bisa! Ini ‘kan ulang tahunmu. Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”

“Tewas, listrik di rumahku mati.”

“Dasar kau ini. Pokoknya Selamat ulang tahun! Aku di sini mendoakan segalanya yang terbaik bagimu. Maaf aku tidak bisa kesana, Kris menginap. Ia juga titip salam dan mengucapkan selamat ulang tahun untukmu.”

“Terimakasih llama. Kris juga. Yasudah, sana temani Kris. Bye,”

“Eo, sama-sama. Bye,”

Seunghee menyerahkan ponsel Kibum padanya lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Kibum.

“Yak! Kau berat,”

“Terserah. Ini hari ulang tahunku aku mau kau melakukan segalanya untukku,”

“Kau tidak mau makan cupcakenya? ‘Kan enak.”

“Jangan cari alasan supaya aku bangun.”

Kibum akhirnya tidak bisa berkutik dan terdiam dengan Seunghee di pangkuannya.

“Kau membawa kado apa untukku?”

“Huh? Biasanya kau tidak terlalu peduli dengan kado.”

“Kali ini aku mau peduli dengan kadoku. Jadi kau bawa kado apa?”

“Cinta?”

“Mati saja kau Kim Kibum,”

Kibum hanya terkekeh sambil melemparkan sebuah jaket ke wajah Seunghee.

“Jaket?!” Seunghee sontak bangun dari posisinya dan melihat jaket tersebut. Ini jaket yang sudah ia inginkan sejak tiga bulan lalu. Harganya yang mahal membuatnya menahan segala egoismenya.

“Akhirnya bangun juga,” ujar Kibum lalu menyilangkan kakinya. Seunghee yang sadar bantalnya berubah langsung memaksakan kepalanya di atas pangkuan Kibum.

“Yak! Kau ini berat!”

Seunghee tetap memposisikan dirinya seperti itu sampai akhirnya Kibum diam lagi.

“Terimakasih ya,” ujar Seunghee.

“Kado? Okay.”

“Tidak hanya itu, karena keberadaanmu disini, karena tidak marahnya dirimu tadi pagi, karena pahamu yang empuk ini yang selalu nyaman bagiku, dan segalanya yang membuatku bahagia. Saranghae Kim Kibum.”

“Kau hanya perlu menciumku sekarang.”

“Apa? Pervert!”

“Hey, kau yang memintaku untuk sedikit romantis ‘kan? Aku sudah berusaha menonton semua drama yang katanya romantis,”

“Pch, dasar aneh.”

Seunghee menaikkan kepalanya singkat dan menurunkannya. Mendaratkan ciuman singkat di bibir Kibum lalu memandang ke arah lain menyembunyikan wajahnya yang mungkin  berubah menjadi tomat sekarang.

“That’s not even a kiss! That’s just a peck!” protes Kibum.

Seunghee hanya pura-pura tidur mendengar protesnya.

 

THE END

 

Oke ini gajelas banget apalagi endingnya anti klimaks banget!

Yaudahlah FF ini dibuat harusnya buat tanggal 22 Desember kemarin, tapi karena satu dan dua hal saya ga bisa publish kemarin huhuhu 😦

Yang penting udah di publish lah yah hahaha 😀

Bye~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s