Foreign Films (Zelo Fanfiction)

Okay sebenernya FF ini sebagian besar bukan ditulis sama saya tapi teman saya haha mav :p

Yah walaupun idenya dari saya haha

Okay, enjoy~

 

 

– Foreign Films –

“Oh hey, bisa kau taruh itu semua di depan?” kudengar Michael, bosku, memanggil dari pojok ruangan sambil menunjuk kardus-kardus yang siap dibongkar isinya.

“Oh, oke. Tunggu sebentar aku harus mengerjakan ini dulu,” jawabku sambil memberi petunjuk kalau dia baru saja memberiku tugas limabelas menit yang lalu, “akan kulakukan setelah yang ini selesai.”

“Oke, mungkin aku akan mengeceknya lagi nanti,”

Oh Tuhan, pekerjaan ini membuatku gila. Aku bersumpah ingin sekali menuntut dengan keras untuk kembali ke pekerjaan lamaku.

Menjadi asisten memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan ketika aku bisa duduk  menikmati hari sambil merancang beberapa pakaian yang akan atau tidak akan tampil di runway.

Oh-maaf ,(sudah berapa kali aku bilang ‘Oh’?) sepertinya aku lupa. Halo, namaku Min-Ah, Kwon Min-Ah. Yep seperti yang kalian tebak, aku orang Korea. Dan sangat banyak orang Korea yang tinggal di Amerika bukan? Termasuk aku. Tapi, mereka selalu salah mengenaliku dengan Kwon Mina yang illustrator itu.

Jadi kupilih Daella untuk jadi nama panggilanku. Tidak ada hubungannya dengan identitas pribadi, atau Amerika, atau Korea sama sekali. Aku menemukannya di jurnal yang kubeli di pasar loak. Yep, ada tulisan Daella yang besar disana. Warnanya juga.. err..  agak mencolok, yah tapi aku menyukainya.

Seperti yang kusebutkan tadi, pekerjaanku adalah seorang asisten. Tepatnya, asisten yang bekerja di galeri untuk seorang kurator seni baru yang sekarang membuka pameran seninya yang kedua di Manhattan. Aku harus mengatur semua persiapan untuk upacara pembukaan besok. Dan H-1 adalah hari paling sibuk sepanjang masa.

“Daella! Bisakah kau bantu aku dengan bingkai ini?” itu dia sebuah panggilan.

Baiklah, sudah perkenalannya. Aku harus kembali bekerja.

“Tunggu sebentar! Aku akan segera kesana!”

***

“…dan terimakasih untuk Daella yang sudah membantuku dari awal hingga pameran ini dibuka. Untuk kesuksesan galeriku, bersulang!”

Aku mengangkat segelas sampanye berwarna semburat keemasan bersama para kolega, tamu undangan, dan beberapa rekan kerja sambil memasang senyum di bibirku. Beberapa dari mereka menjabat tanganku, memberi selamat atas kerja yang baik.

Yang benar saja, kalau mereka pikir mengangkut-angkuti kardus dan mengelap pigura adalah kerja yang baik, aku mulai meragukan posisiku di sini.

Kugoyang gelasku ditangan dan melihat ke permukaan. Bukannya aku tidak suka dengan pekerjaan baruku atau apa, hanya aku tidak berharap banyak dengan yang akan kulakukan selanjutnya selama bekerja di sini. Semoga aku lebih banyak berhubungan dengan pigura dan lebih sedikit berhubungan dengan manusia.

Setelah beberapa lama aku menatap gelasku, kuputuskan untuk melangkah keluar ruangan sesudah memastikan bahwa rekan-rekanku sedang menikmati keriuhan ini dan tak satupun dari mereka yang butuh teman bicara, angin malam tiba-tiba saja jadi ide yang bagus.

“Kenapa kau tidak minum?” tanya seseorang dalam bahasa Korea dengan suara yang agak sengau di sampingku sesaat setelah aku menyandarkan bagian depan tubuhku di balkon dan menatap gemerlap kota New York di malam hari.

Kuacuhkan pertanyaannya dan pura-pura tak mendengar. Ini malam yang panjang dan berbasa-basi dengan pria Korea yang mabuk bukanlah pilihan untuk menghabiskan malamku.

“Kenapa kau tidak meminumnya?” tanyanya lagi, kali ini menahan pundakku dan membuatku berpaling hanya untuk melihat bola mata onyx dan senyumnya yang menunjukkan keangkuhan. Orang ini punya mata paling indah meski sedang mabuk, tapi tangannya meremas lenganku lebih keras setelah aku tidak menjawab pertanyaannya yang ketiga kali.

Haruskah aku berteriak? Apa orang ini berusaha mengancamku?

Mungkin ini saatnya aku berpura-pura tidak mengerti dan berakting jadi cewek Amerika.

Excuse me?” aku berlagak lalu melangkah menjauhinya.

Tawa mengejek terdengar dari arah belakang. Terserah.

Baru saja aku bernapas lega setelah menemukan tempat lain untuk memikirkan hal yang sedih-sedih. Kali ini yang kudengar adalah suara pantofel yang bersinggungan dengan lantai kayu. Uh-oh, ada yang bergerak mendekat.

Aku mempercepat langkahku untuk menghindar yang sebenarnya tidak bisa terlalu cepat, karena sepatu hak tinggi dan platform licin terkutuk. Dugaanku benar, dua detik kemudian Ia sudah berdiri di depanku. Tersenyum licik.

Bagaimana mungkin orang yang begitu mabuk bisa berjalan begitu cepat. Oh yeah, dia orang Korea dengan tungkai terpanjang yang pernah aku lihat.

I’m not a fool and I know you’re Korean,”

Tentu saja, sedari tadi Michael memperkenalkanku sebagai orang Korea yang baru menggantikan asisten lamanya.

Aku memutar bola mata, dramatis. Jangan lupa, aku ini jago akting lho.

Okay, You got me. You’re right that I’m a Korean. Does that matter? I don’t even know what you were talking about back there.

Wajah liciknya hilang sekarang, berganti dengan ekspresinya yang… yang… entahlah sulit untuk digambarkan, mungkin heran. Tapi dia pasti kaget dan tertipu olehku.

Don’t lie to me, Ms. Kwon.” Bibirnya membiarkan namaku mengalir.

Apa?

Hey, tunggu sebentar.

You’ve been living here since last year, aren’t you? And I know pretty well that you speak Korean fluently,” tudingnya. Satu alis terangkat dan kedua tangan dilipat di depan dada, memperlihatkan bisep dibalik kemejanya yang pantas dipertontonkan terutama bagi kebanyakan wanita.

Dipikirnya dia lebih superior.

“Tak ada yang menyebut nama keluargaku,” aku menyanggah. Kali ini dalam bahasa Korea, “siapa kau sebenarnya? Apa maumu?”

Ia lalu terkekeh dan tersenyum licik, lagi.

“Siapa aku itu tidak penting,”  ujarnya sambil memiringkan kepala mengundangku, “lebih baik kau ikut aku sekarang.”

Ia melangkah lebih dekat lalu telunjuknya memainkan rambutku, hal lebih buruk terjadi ketika Ia membawa rambutku mendekati hidungnya dan terlihat seperti baru saja menghirup nirwana.

“Apa kau selalu seharum ini?” kutepis tangannya dari rambutku. Lalu berkata,

“Apa kau salah satu orang suruhannya?” seketika setelah aku mengucapkannya, seluruh rambut di sekujur tubuhku meremang. Khawatir kalau jawabannya akan membuatku harus melakukan tindakan yang tidak diinginkan, termasuk menendang bagian di bawah perutnya kemudian kabur tanpa melihat lagi ke belakang.

“Sudahlah ikut saja.” Jawabnya, menarik pergelangan gaunku.

Aku tak membiarkannya sembarangan merusak gaun istimewaku yang harus diperhatikan secara khusus. Jadi aku mendorong jemarinya satu-persatu secara perlahan dan hati-hati supaya lepas dari kain di lenganku. Yang malah menghasilkan sudut di ujung bibirnya naik makin tinggi.

“Aku tidak akan pergi begitu saja dengan orang asing dan aku masih punya urusan disini,” tolakku.

Kuputar balik langkah ke ruang pamer, meninggalkan pria itu di tempat kami berdiri tadi.

Ini malamku. Seburuk apapun hal yang akan terjadi malam ini,  akan lebih baik kalau aku tidak harus berurusan dengan pria mabuk aneh asal Korea.

Menghampiri salah satu pelayan yang berkeliaran ke sepenjuru ruangan, aku pun mengambil satu gelas yang mereka tawarkan di atas nampan.

Kutegak seluruh isinya dan menghabiskan segelas lagi sebelum melangkah mendekati sumber musik di ruangan ini lalu membiarkan diriku membaur dengan orang-orang lain yang terlalu waras untuk berada di pesta ini.

Satu orang menari denganku. Menyelaraskan tarian alien kami sambil tertawa-tawa dan terus menari sampai hampir habis dua lagu, lalu dia pergi. Orang lain datang, menari sama gilanya dan menegak lebih banyak minuman yang lewat sampai aku tidak tahu berapa banyak kami sudah minum, yang ini terlalu mabuk untuk melanjutkan. Ia terhuyung-huyung melangkah ke arah toilet.

Sepertinya sudah lewat tengah malam ketika aku terlalu kosong untuk tidak menari.

Kurasakan sepasang mata terus memperhatikanku dari belakang. Tak lama, pria yang sama bergerak mendekat. Tidak perlu repot-repot untuk memeriksa karena aku bisa merasakan tatapannya bergerak mengikuti tubuhku.

Posisinya yang kemudian menari tepat di belakangku membuat punggungku bersentuhan beberapa kali dengannya. Panas tubuhnya menyebar melalui pakaian kami ke kulitku, membuat aku tak bisa tidak sadar. Kami baik-baik saja degan kontak fisik sambil lalu. Kemudian ini semua berubah intens dan bukan cuma aku yang kepanasan.

Segalanya berada di bawah kendali, aku menikmati apapun yang kami miliki saat ini. Dua orang asing, menari sampai mabuk, kemungkinan akan berpapasan di jalan besok nol besar. Sampai kedua tangannya menggenggam pinggangku kemudian berbisik di telingaku,

You surely know how to dance.”

Sialan.

Kusentakan tubuhku lepas dari genggamannya, tidak cukup jelaskah kalau aku tak menginginkannya ada di dekatku.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku bermaksud mengintimidasi meskipun senyum di bibirnya berkata lain, “Aku hanya ingin kau ikut denganku sebentar saja, Ms. Kwon.”

Well, kau berhasil melakukannya Tuan.

Aku mundur selangkah demi selangkah diikuti dengannya yang  tak mau menyerah untuk menutup jarak di antara kami.

“Bagian mana dari kata tidak yang tak kau mengerti?” kucoba untuk terdengar berani ketika yang kulakukan terdengar seperti pekikan.

“Entahlah Ms. Kwon mungkin semuanya.” Ia memberiku senyumnya lagi dan itu tak membuatnya lebih sedikit menakutkan.

“Kutebak kau pasti jarang sekali ditolak,” kutemukan pintu keluar berada beberapa langkah di sebelah kiriku.

“Oh, jangan mulai menebak Ms. Kwon,” ia kembali menarikku untuk menari sekali lagi ketika lagu berikutnya muncul, “atau ini jadi tidak seru lagi.”

“Sekali ini saja.”

***

Pameran sudah mencapai pekan ketiga dan ini merupakan pekan tersulit. Aku dapat delapan telepon dari pelanggan yang ingin memesan karya yang kami pajang. Sedangkan kami hanya tinggal punya tiga dan mereka bersikeras dengan pilihannya.

Terlalu buruk saat Rachel, orang kami yang biasa mengurus hal ini pergi berbulan madu dengan suaminya dan meletakan seluruh beban pekerjaan di atas pundakku.

Kucoba berkali-kali menghubungi atasanku, Michael, namun yang kudapat malah layanan pesan suara miliknya. Jadi kutinggalkan pesan setelah bunyi beep,

“Hey, Mike, sedikit agak kacau di sini. Kuharap, mungkin, kau mau datang dan membantu. Oh, Tuhan. Aku butuh ilham saat ini juga. Bisa kau, setidaknya, menelpon balik? Lebih cepat lebih bagus. Dah.”

Aku bersandar di kursiku dan menarik napas panjang. Hal seperti ini tidak biasa, karena fotografer lumrahnya menyewa galeri kami untuk menawarkan jasa mereka, bukan produk yang mereka hasilkan. Kupijat pelipisku dan berharap satu ide akan muncul di belakang kepalaku.

Ketika aku yakin tak ada yang terjadi, sepuluh menit kemudian aku beranjak dari ruang kerjaku menuju dapur. Mencari sesuatu yang lebih kuat dari teh untuk membuatku tetap stabil dan terjaga.

Kemudian mengingat Michael adalah seorang penggila teh, aku ragu akan menemukan apapun.

Merasa frustrasi, aku menyelinap keluar dari galeri lewat pintu tamu. Karyawan sebenarnya tidak diperbolehkan keluar masuk melalui pintu tamu, tapi harus memutar beberapa blok kalau aku mau ke Starbucks (yang tepat di sebrang galeri kami) lewat pintu karyawan.

Sesaat setelah sampai di konter, aku segera memesan secangkir besar espresso untukku dan half-decaf untuk Nadine, sukarelawan yang membantuku sejak dua minggu lalu. Ingat kalau pekerjaan ini tidak hanya membunuhku tapi juga semua orang di galeri, aku pesan empat cangkir lagi.

“Kau tidak harus, Daella.” Ucap Nadine, tersenyum saat aku menyerahkan cangkir kopi miliknya.

“Aku cuma mau melakukan hal yang benar,” kubalas seraya membagikan cangkir-cangkir lain dan mendapat sedikit anggukan atau, kalau aku cukup beruntung, ucapan terima kasih dari rekan-rekanku.

“Hey,” uluran tangan Frank menarik perhatianku. “Coba hubungi fotografernya dan cari tahu kalau-kalau dia bisa membantu.” Di jarinya terselip kartu nama seseorang.

“Terima kasih, Frank.” Kupandang kartu nama yang sekarang ada dalam genggamanku itu dengan kedua mata,

Best Absolute Photography

***

Kutekan digit telepon di mejaku, berharap Tuhan mau membagikan kemurahan-Nya untuk butiran debu yang satu ini.

Tolonglah, tolong, tolong, tolooong.

Jantungku serasa mau berhenti ketika mereka mengangkat teleponnya pada dering ketiga,

“Best Absolute Photography. Ada yang bisa dibantu?” tarik napas,

“Uh, Hai. Begini, kami dari The Cove Gallery, tempat salah satu fotografer anda melaksanakan pameran.” Lepaskan, “sayangnya kami punya sedikit masalah di sini, dan saya ingin bicara secara personal dengan fotografernya.”

“Maaf, tapi kalau boleh tahu saya sedang bicara dengan siapa, ya?”

“Asisten pribadi Michael Yew. Daella Kwon, Pak.” Aku suka bagaimana namaku disebut setelah Michael, aku hanya tidak suka pekerjaannya.

“Sayang sekali, Daella. Tapi Zelo sedang di luar dan tidak bisa dihubungi sekarang.” Aku hampir menelan kaktus sebelum Ia melanjutkan, “mungkin kalian bisa bertemu di luar dan membincangkan ini. Kau punya telepon atau surel pribadi yang bisa dihubungi?”

Kuberikan padanya alamat surel dan nomer telepon pribadiku agar lebih mudah mentukan waktu dan tempat pertemuan.

Zelo yang tentukan, sebenarnya, karena jadwalku cukup luang. Dia pilih The Grotto pada waktu sibuk.

***

Ketika aku berjalan memasuki The Grotto, usahaku untuk datang lebih cepat dari waktu pertemuan kami tidak terlalu mujur, tempat ini sudah disesaki pengunjung.

Tak lama aku menemukan sudut yang belum ditempati dan duduk di sana, mengisyaratkan pada pelayan kalau aku baru akan memesan nanti. Kukeluarkan jurnalku, sekarang sudah terlalu banyak tulisan dan gambar tumpang tindih, kemudian mulai menarik garis dan lengkung menjadi sebuah sketsa sambil menunggu.

Sesekali Rachel dan Katie mengajakku kemari kalau waktu kami tidak padat, sehingga membuat aku cukup familiar dengan tempat ini maupun menu yang disajikan.

Dadaku berdegup kencang. Rasanya waktu bergulir cepat ketika pria tinggi dengan tubuh ramping menghampiri dan duduk bersebrangan denganku.

“Hey, selamat petang. Apa kau –kau?!”

“Halo.” Senyumnya masih sama dengan waktu pertama Ia melecehkanku di pesta pembukaan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, terganggu dengan keberadaannya di radius kurang dari satu meter.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Ia mengulurkan tangannya seperti hendak menjabat tanganku. Tapi aku tidak menghiraukannya.

Ia tetap menungguku menjabat tangannya namun melihat ketegangan bahwa aku tak mau menyentuhnya membuat Ia mengurungkan kembali niatnya.

Well, sedikit tidak sopan ‘kan kalau kau kasar pada klienmu.” Dahiku berkerut sedetik setelah ia mengucapkannya. Tidak mungkin kalau dia-

“Kau yang ingin ketemu aku ‘kan? Harusnya kau bersyukur aku mau menemuimu sesaat setelah kau telepon,” senyum angkuhnya berubah menyindir. “Tapi kalau kau ingin aku pergi juga tidak apa.”

“Tunggu!” aku takut Ia beranjak pergi sebelum aku bisa mencegahnya. “Tunggu, Zelo.”

Mendengar keputus-asaan dalam nada suaraku, Ia tertawa terbahak-bahak sambil menutupi mulut dengan kepalan tangannya kemudian berdeham setelah melihatku memelototinya dengan kesal bercampur bingung.

“Kau benar-benar berpikir aku akan pergi, ya?”

Tak bisa dipercaya, Ia menganggap kepanikanku ini lelucon.

“Aku benar-benar butuh bantuanmu, oke?”

“Kau sangat serius, Ms. Kwon. Aku sulit beradaptasi dengan orang serius.” Satu tangannya menopang dagu.

“Mau pesan sesuatu?” tanyaku, berusaha sesopan mungkin.

“Apapun yang kau pesan oke buatku,” jawabnya.

Maka kupesan dua cheeseburger dan garden salad dengan dressing blue cheese untuk kami berdua ketika pelayan yang bertugas di meja kami datang menghampiri.

“Apa?” kubilang saat Ia menatapku heran ketika aku memandangi makan malamku dengan mulut penuh liur saat mereka sampai di atas meja.

“Tidak, bukan apa-apa.” Ujarnya lalu mengambil sebuah gigitan di cheeseburgernya.

“Baiklah,” kucoba menelan segigit, “Kita mulai saja sekarang,”

“Percaya padaku, kau terlihat lebih molek dengan senyum di wajahmu. Bahkan yang palsu sama bagusnya.”

Kuhela napas. Sebagian lelah mendengar omong kosongnya, sebagian lagi membenci diri sendiri karena diam-diam terbuai olehnya.

“Aku yakin kita sama-sama tak punya waktu untuk ini, Zelo.”

“Apa itu terlalu banyak untuk diminta?”

Tanpa mempedulikan pertanyaannya aku melanjutkan, “Kami butuh lebih banyak hasil pekerjaanmu, apa kira-kira kau bisa melakukannya?”

Zelo tertegun, hening sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab, “Maaf, tapi seharusnya yang kukirim ke galeri kalian adalah satu seri. Kalau aku tambah lagi, akan merusak esensinya. Harusnya kau tahu itu.”

Matanya tak pernah melepaskanku.

“Benar, maafkan aku.” Kutarik napas panjang sekali lagi, “Tadinya ini hanya untuk klien tertentu yang menyukai karyamu dan aku yakin tidak akan dipublikasikan atau dipajang di galeri.”

Kubiarkan rasa kecewaku tertahan di tenggorokan. Aku tak bisa membiarkan kegagalanku jadi beban pikiran orang di depanku ini atau siapapun.

Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menolak lima orang pembeli dan menjelaskannya pada Michael jika pelanggan berharganya mengeluh.

Tapi Michael tidak akan memecatku karena ini ‘kan? Hanya karena aku kurang tegas di awal bukan berarti Michael akan langsung menjatuhkan aku.

“Hey,” Zelo menarikku kembali dari lamunan, “Kau butuh berapa buah?”

“Ap … apa?”

Sekarang sorot matanya berubah simpati. Aku tak menyukainya tapi aku tak bisa mengelak kalau itu membuatku nyaman.

Ia melarikan jemari ke rambutnya dan bertahan di atas tengkuk sebelum berkata,

“Kalau pesanannya cukup banyak, aku bisa saja membuat seri baru. Mungkin tidak akan sama, tapi aku yakin pasti kualitasnya terbaik.”

Mataku mengerjap berkali-kali, masih tak percaya kalau yang baru saja Ia katakan adalah nyata dan bukan akal-akalan frontalis depresi di kepalaku.

“Tidak dengan cuma-cuma tentu saja.” Senyum angkuhnya kembali.

“Apa maksudmu tidak cuma-cuma?” tanyaku, tak mengerti yang diucapkannya. Kupikir Ia pernah melakukan pameran sebelumnya.

“Tentu saja kami akan membayarmu,” aku melanjutkan, “Hasil penjualan akan langsung mengalir ke rekeningmu.”

“Tidak, bukan bayaran yang seperti itu yang kumaksud.” Ujarnya sambil beranjak dari meja kami.

“Lantas?”

“Kau akan tahu.”  Ia mengedipkan mata lalu pergi meninggalkanku dan makanannya yang hanya berkurang secuil di atas meja.

***

Usahaku menemui Zelo tidak sia-sia. Persetujuan kami berjalan mulus, tidak ada laporan buruk yang sampai di mejaku dan Michael senang pelanggannya senang.

Sebagai gantinya selama seminggu aku diperbudak Zelo dan terpaksa mendampinginya ketika dia harus mencari objek atau pergi ke percetakan atau ketika Ia harus pergi ke suatu workshop. Katanya ini bagian dari syarat kalau aku mau persetujuan kami lancar. Kubilang Ia hanya ingin menghabiskan waktu denganku.

Salahku ketika yang kuucapkan itu mendatangkan sebuah ide di kepalanya untuk memaksaku jalan bareng pada hari Sabtu setelah aku selesai di galeri. Hanya jalan bareng lho, bukan kencan.

Siapa yang tahu kalau Zelo dapat jadwalku dari Frank, yang ternyata merupakan kerabatnya. Kupikir Frank seorang Cina-Kanada bukan Korea-Kanada.

Yeah, seperti itu tidak mengusikku saja. Kalau mereka ternyata kerabat, kenapa bukan Frank saja sih yang waktu itu menghubungi Zelo.

“Aku kurang persuasif,” Frank bilang ketika aku mencecarnya dengan pertanyaan.

Well, nasi sudah menjadi bubur. Hari Sabtu sudah datang dan Zelo sudah terlanjur menunggu di depan flatku dengan sebuah Jeep. Hey, lagipula memangnya akan seburuk apa sih?

Selama Ia menyetir, kami lebih banyak diam meski sesekali saling melontarkan pertanyaan basa-basi. Musik dari stereo bermain, tapi tetap saja rasanya sunyi. Aku mencuri pandang dan mendapati jarinya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama, namun tatapannya penuh keresahan.

Tak tahan lagi akhirnya aku bertanya, “Kau baik-baik saja?”

“Ya,” jawabnya, sesaat setelah menatapku.

“Kau terlihat gelisah.”

Hening.

Lalu Ia kembali menoleh padaku, berharap Ia berbicara lebih banyak lagi.

“Aku suka lagu ini, boleh aku keraskan volumenya?”

Aku hanya mengangguk dan tak bisa menahan kerutan di dahiku ketika Zelo kembali berkonsentrasi pada jalanan. Setiap kali kami bersama, seringnya Ia yang banyak bicara. Harus kuakui, memang menyenangkan mongobrol dengannya ketika Ia tidak sedang bermain-main atau sedang menggodaku.

Pernah sekali Zelo bercerita tentang bagaimana Ia bisa sampai di New York ketika seharusnya Ia mengambil studinya di suatu universitas di Manchester, dan betapa Ia bersyukur karena tidak mengambil kesempatan itu karena Ia akan menjadi orang lain dengan jurusan lain dan profesi lain yang belum tentu disukainya. Itu membuatku bercermin dan berpikir, kalau aku sendiri sekarang tidak berdiri di bidangku.

Sekitar tiga lagu akhirnya jeep kami menepi dan parkir di suatu lahan yang khusus di sediakan saat aku sadar kami berada di mana.

“Di sini? Kau serius?” tanyaku.

Zelo menegadah saat beberapa cowok mulai melonjak-lonjak, meneriakinya untuk menghampiri mereka. Aku tak pernah mengira kalau Ia baru saja membuatku pergi ke festival musik Korea.

Benar, festival musik Korea di tengah-tengah kota New York. Tempat yang sama festival keren seperti Woodstock pernah di selenggarakan. Aku sendiri tak percaya. Harus kuakui rasanya hampir seperti di rumah melihat banyaknya orang berwajah Asia.

“Aku ‘kan bisa pakai setelan yang lebih pantas,” aku berbalik, merasa frustrasi melihat Zelo dengan kaus belel dan jeans sedangkan aku pakai sundress yang tidak nyaman untuk acara seperti ini.

“Kau terlihat baik-baik saja, kok.”

Dengan besarnya selisih tinggi di antara kami berdua, memudahkannya untuk merangkul bahuku dan—aku seperti disetrum—Ia mencengkeramnya agar aku tidak melarikan diri sebelum aku sempat menghindar.

“Siapa yang memberimu izin untuk melakukan itu?” kujaga suaraku agar tidak terdengar panik.

Ia tersenyum. Tidak menyindir maupun angkuh. Ini buruk karena berhasil membuat pipiku memanas. Beruntung aku mengaplikasikan berton-ton riasan wajah. Ia tidak akan sampai melihat barang bukti di sana.

“Sulit sekali untuk keluar akhir-akhir ini,” Ia mulai mempermainkan ujung rambutku. “Untung kau sedang kosong.”

Aku memutar bola mata dan berusaha menjauh, tapi Ia menarikku lebih dekat.

“Kalau bukan karena kau menyelamatkanku waktu itu, aku tidak akan menemanimu sekarang.” Aku memberengut.

Alisnya naik lebih tinggi diikuti sudut bibirnya.

“Apa?”

“Tidak. Hey, biar kukenalkan kau pada temanku.” Katanya, lalu melakukan jabat tangan rahasia dengan pria Asia lain yang punya highlight ungu di rambut sebelum menyentuh sebagian kecil punggungku.

“Hyung, Daella. Daella, Jongup Hyung.”

Jongup tersenyum saat menjabat tanganku. “Aku tak tahu kau punya pacar, Zelo.”

“Dia, uh, kami …”

“Bisa dibilang kolega.” Aku menyela.

Yeah, kami bisa dibilang kolega.”

Ini hanya perasaanku atau Zelo memang terdengar jauh lebih murung saat mengucapkannya.

Setelah perkenalan itu kami berpindah ke tempat yang lebih ramai dengan orang-orang yang berdandan lebih aneh dan lebih banyak gesekan di sana-sini. Tapi yang lebih aneh adalah, aku tak merasa keberatan saat Zelo memindahkan posisi tangannya ke panggulku.

***

Hari sudah gelap dan aku sudah bersiap-siap untuk pulang saat Zelo mengajakku ke suatu klab di tengah kota. Ia kelihatannya tidak menyadari kalau yang kuinginkan saat ini hanya berendam di air panas dan tidur lelap dengan mimpi indah.

“Ayolah, kau hanya butuh sedikit hiburan. Bermain-main sedikit tidak membuat sakit,” Ia berujar.

Kulirik jam tanganku lalu kembali mencurigainya. Dia pasti gila.

“Aku tidak gila,” katanya.

Kalau bukan gila berarti  psycho.

“Dan bukan psycho,” katanya lagi.

Apa kaubaca pikiranku?

“Sudahlah, lagipula hanya aku yang menikmati festival ini ‘kan?” Aku tertegun sesaat. Ada benarnya juga. Sejak awal aku sampai di festival, Zelo sudah menyerangku dengan kontak fisik dan membuatku tidak fokus pada hal yang lain.

Ia kembali mengangkat alisnya, menawarkan. Kulihat kerumunan orang di depanku semakin ramai dan ricuh.

Mungkin bermain-main sedikit tidak membuat sakit.

“Beritahu dulu kita akan kemana,”

Ia menghela napas, dan membiarkan bahunya turun. Apa aku membuatnya frustrasi?

“Aku akan beritahu nanti,” jelas Ia frustrasi.

“Janji?” tanyaku meyakinkan.

Aku tahu dia bukan pembunuh bayaran atau pemburu hadiah seperti di film-film, tapi Zelo memancarkan aura yang membuatmu ingin menyimpan alat kejut listrik tetap dekat. Agak berlebihan tapi ini adalah proteksi diri yang baik (menurutku sih­), sayang aku tak punya alat kejut listrik.

Zelo hanya menjawab dengan senyum di bibirnya dan jempol yang sudah terangkat di depan wajahnya. Kemudian aku membiarkannya meraih tanganku dan menggenggamnya (karena Ia memintaku dengan baik-baik) selama kami berjalan bersama tiga cowok dan teman kencan mereka.

Zelo memperlakukanku seperti teman kencannya. Mungkin itu yang Ia inginkan malam ini, membuatku bersikap seperti pacarnya.

“Aku masih punya semprotan lada, kau tahu?” kubilang, memecah keheningan yang mulai terasa canggung.

“Huh?”

“Hanya untuk jaga-jaga kalau kau mulai berlaku aneh,”

Ia hanya terkekeh saat merespon ungkapan bodohku. Biar saja, setidaknya dia tahu kalau bermain-main dengan gadis Kwon bisa merepotkan kalau dia tidak berkelakuan baik.

***

Zelo menggiringku ke suatu klab malam rahasia.

Kusebut ini rahasia karena letak pintu masuknya yang berada di antara gang sempit dan gelap. Satu-satunya cahaya yang bisa dilihat berasal dari graffiti bertuliskan ‘Enter’ yang bisa menyala dalam gelap, sampai kau membuka pintunya dan menemukan kalau kondisi di dalam sama sekali berbeda dengan yang di luar.

Cahaya laser di mana-mana dengan musik menggelegar. Sistem peredam suara mereka pasti keren sekali karena aku tak bisa dengar apapun tadi ketika masih di luar.

Lebih banyak orang Asia dengan pakaian aneh dan minuman yang sama-sama menyala dalam gelap di genggaman mereka.

“Tempat apa ini?” tanyaku.

“Orian Den. Tapi itu terdengar payah jadi kami hanya menyebut Den. Tiap Sabtu aku dan teman-temanku nongkrong di sini.”

Ia mengajakku duduk di salah satu sofa di pojok ruangan waktu kubilang aku terlalu capek untuk menari kemudian Zelo pergi mengambilkan minuman untukku.

Teman-temannya yang tadi datang bersama kami sudah hilang di antara kerumunan.

Kuperiksa ponselku untu surel masuk atau pesan singkat. Kebanyakan dari Michael atau Nadine dan tidak terlalu penting jadi kuabaikan saja untuk nanti kubuka di rumah. Aku sedang di tengah-tengah halaman sebuah majalah online ketika seseorang duduk di sebelahku, spontan aku mendongak dan menemukan wajah yang tak asing lagi.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, hampir menjatuhkan ponsel yang kugenggam kalau tidak terperangkap di antara rok terusanku.

“Aku bisa saja bertanya hal yang sama padamu.” Jawabnya, sambil mendekatkan wajah ke arahku dengan maksud agar suaranya terdengar olehku di tengah-tengah ingar-bingar di sekeliling kami.

“Bukan urusanmu.” Kubilang, diam-diam memasukan tangan ke dalam tas dan mencari semprotan lada yang kusiapkan untuk jaga-jaga.

“Kira-kira bagaimana ya pendapat bos kalau tahu aku menemukan kupu-kupunya. Dan di tempat seperti ini.” Ia mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku celana dan mulai menekan-nekan sesuatu.

“Oppa, kumohon jangan beritahu dia.” Kugenggam semprotan ladaku makin erat, siap-siap meluncurkan serangan.

“Ooh, kau tidak tahu, Minah. Dia sudah memasang harga untuk siapa saja yang bisa membawamu pulang.”

“Kumohon, oppa. Jangan lakukan itu,” pintaku. Setengah merajuk dan hampir berlutut di hadapannya agar Ia tak membawaku. Aku tak bisa menutupi ketakutanku dan bagaimana tubuhku mendekati menggigil hebat saat ini.

“Kau akan ikut denganku tak peduli kau menyukainya atau tidak.”

Ia mencengkeram lenganku yang bebas dan mulai menyentakku agar berdiri dari sofa itu. Kulayangkan tanganku yang menggenggam semprotan lada dan tak tanggung-tanggung menyemprotkan sebisaku ke wajahnya, disambut erangan keras dari mulutnya.

Kugunakan kesempatan ini untuk kabur ketika kemudian aku bertubrukan dengan Zelo yang baru datang dari mengambil minuman, sebagian minuman tumpah ke sundressku.

“Kau baik-baik saja?” kedua tangannya di bahuku, khawatir dengan tubuhku yang gemetaran. Lalu Ia melihat lewat bahuku dan kemungkinan melihat perbuatanku pada Mino oppa.

“Aku ingin pulang, Zelo. Sekarang.” Kulipat tanganku di depan dada, berusaha mengurangi gemetarku.

“Baik, kita pulang sekarang.” Ia kemudian melingkarkan lengannya di bahuku dan membawaku ke luar klab.

Tangannya tak melepaskanku sampai kami sampai di jeepnya. Ia membukakan pintu untukku, menunggu sampai aku benar-benar masuk kemudian berlari kecil dan memutar ke sisi kemudi.

Kubiarkan napas panjang lepas dari dadaku ketika aku sadar bahwa selama ini aku sudah menahannya sejak kami keluar dari Den. Zelo sesekali melirikku dengan cemas dan menunggu sampai aku benar-benar tenang sebelum bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi.

Maka kuceritakan apa yang hampir saja akan Mino oppa lakukan dan bahwa Ia sebenarnya bekerja untuk jaringan kotor kakakku di Korea sana dan bahwa aku sebenarnya dalam masa pelarian beberapa tahun ke belakang ini karena aku tak mau bergabung dengan mereka. Tapi orang-orangnya terus mencariku sampai sekarang dan tidak mau menyerah. Terakhir kali mereka berhasil menangkapku, aku bisa lolos ketika kami baru sampai Macau dan aku langsung kabur ke Amerika.

Kepalan tangan Zelo meninju dasbor dan membuatku terkejut.

“Maafkan aku,” uajrnya, di tengah-tengah erangan. “Harusnya aku tak membawamu ke sana.”

“Tidak apa-apa, Zelo.”

“Kukira Mino hyung sepupumu. Ketika aku menceritakan padanya tentangmu, Ia memintaku untuk sesekali mengajakmu ke Den. Harusnya tak kubiarkan itu terjadi.”

Aku hanya diam dan tidak berbicara sepatah katapun sampai jeep kami sampai di depan flatku lalu Ia mengantarku sampai di depan pintu ketika kami sama-sama berhenti.

“Kuharap kau masih mengijinkanku kencan denganmu, Ms. Kwon.” Tak yakin harus meletakan tangannya di mana, Ia memasukan keduanya di saku kiri dan kanan jeansnya.

“Kauanggap itu kencan?” tanyaku, memiringkan kepala sedikit berlagak bingung.

“Tentu saja itu kencan …” ujarnya, lalu terdiam.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanyanya tak lama kemudian.

“Lakukan apa?”

“Kau melangkah mundur,”

“Kau melangkah maju.” Balasku.

“Bagaimana kalau aku ingin menciummu?” suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

“Bagaimana kalau aku tak ingin kau melakukannya?”

Tatapannya tak melepaskanku dan ujung bibirnya terangkat, “Apa itu berarti aku bisa saja melakukannya?”

Kuputar bola mataku lalu melangkah meninggalkannya.

“Tunggu!”

Zelo merunduk dan mengambil sesuatu dari tanah di sekitar terasku, “Bagaimana kalau aku memberimu ini dan kau harus menjaganya.”

Ia membuka jemariku dan meletakan bunga liar di atas telapak tanganku. Kunaikkan alisku, tak yakin dengan apa yang diinginkannya.

“Kalau aku menanyakan tentang bunga ini, maka kau harus memilikinya.”

“Kalau aku menghilangkannya?” tanyaku, penasaran dengan permainannya.

“Maka aku akan sangat menderita.”

Aku tercekat mendengarnya begitu pasrah dan tidak percaya diri. Tidak seperti Zelo yang selalu cerewet dan tidak pernah lelah menggiringku kemana-mana. Sisinya yang seperti ini terasa baru dan membuat jeroanku melebur.

“Kalau begitu aku akan bohong saja.”

Kubiarkan senyumku lolos dan menghasilkan binar di mata gelapnya lalu menghilang dari hadapannya ke dalam flat.

Advertisements

3 thoughts on “Foreign Films (Zelo Fanfiction)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s