Strayed

fix

If I had just one miracle in my life, it would probably be when I first met you. If I had just one hellish moment I wanted to forget, that would probably be when you left. -Sunggyu, Alive-

Setiap hari rasanya tidak ada yang spesial. Aku bangun pagi lalu minum air seperti biasanya. Lalu seperti hari-hari lainnya aku langsung terfokus pada ponsel dan laptop di tengah ruangan. Berkali-kali mencoba melakukan panggilan pada nomor yang sama sambil mengecek internet. Lalu saat jarum jam menunjukkan pukul tiga belas aku akan keluar menuju mini market dan membeli makanan. Apa saja yang sudah siap agar aku bisa segera kembali ke rumah dan melakukan semua aktivitas itu lagi.

Begitu terus setiap hari.

Pagi ini seseorang menekan bel apartemenku. Aku berjalan lunglai menuju pintu tanpa peduli apa yang kukenakan dan seperti apa rambutku. Paling-paling hanya pengantar barang.

Kali ini ternyata bukan pengantar barang. Orang itu tersenyum di hadapanku sambil melepaskan topi hitamnya.

Tao?

Aku masih merasa bermimpi. Ketika ia dengan santai masuk dan duduk di sofa berantakan di tengah ruangan. Rasanya aku mendengarnya mengatakan sesuatu tetapi aku masih belum bisa memproses apa itu. Otakku sepertinya beku.

“Hey, Choi Jungwon. Sedang apa kau di situ?”

Kata-katanya membawaku kembali pada kenyataan.

Ia bergerak mendekatiku, “Apa kau tidak senang aku di sini?”

Aku bersumpah ingin membunuhnya saat itu juga.

Karena ia menghilang tanpa kabar, karena ia pergi tanpa pamit, dan karena ia membuat duniaku tidak penting dua bulan ini.

Tapi aku hanya malah tersenyum dan berkali-kali mengucap syukur.

Sekarang sudah ada dua cangkir berisi teh di depan kami. Sampah-sampah yang tadinya berserakan juga sudah dibersihkan. Dari tadi ia hanya duduk diam dengan mata yang terus terfokus padaku. Kami belum bicara apa-apa. Tidak ada kata yang tepat yang bisa dikeluarkan.

“Bisakah aku meminjam 24 jam darimu?” ia bertanya.

Untuk apa bertanya, toh ia sudah merampas waktuku dua bulan ini.

Aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Aku tidak mau bertanya untuk apa. Dia ada disini bersamaku saja aku sudah senang.

“Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?” ia bertanya lagi. Aku hanya mengangkat bahu. Sejujurnya aku juga bingung harus jawab apa.

Percakapan kami berlanjut. Hanya percakapan ringan, sama sekali tidak menyinggung keberadaannya atau apa yang selama ini ia lakukan. Beberapa hanya membicarakan hal-hal tidak penting, tentang udara dan cuaca, tentang angin dan pepohonan, tentang rindu dan rasa.

Tao mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Kotak kecil berwarna putih yang sudah bisa kutebak apa isinya. Diambilnya sebatang, lalu Ia menyulut ujung rokok itu dan meletakkannya di bibir, menghisapnya pelan menikmati asap keabuan yang mulai memenuhi paru-paru.

Aku sangat tidak tahan dengan pemandangan ini. Tidak, aku bukan tidak tahan dengan kepulan asap yang pada akhirnya akan memenuhi dadaku juga atau bau khas yang menyengat hidung. Terserah kalau orang lain merokok. Tapi Tao bukan orang lain.

Tanganku meraih rokok yang terselip di bibirnya itu. Langsung menekan ujungnya pada entah buku apa di atas meja. “Kau sudah lupa aku menyuruhmu berhenti merokok?”

Tao hanya tertawa kecil, “Maaf, akhir-akhir ini pikiranku melayang entah kemana.”

“Rokok bukan pengalihan perhatian yang baik.”

“Aku tidak menemukan pengalihan yang lebih baik dari rokok.”

“Untung saja kau belum pernah menyentuh obat-obatan.”

Tiba-tiba karpetku jauh lebih menarik untuk dipandangi baginya.

“Ya, untung saja.”

Tao memang merokok. Semua pemberitaan tentang rokok dan dirinya benar. Ia adalah salah satu perokok berat yang pernah kukenal setelah ayahku. Di usianya yang masih muda Tao bisa menghabiskan berbungkus-bungkus rokok tiap harinya. Setelah ia tahu ayahku meninggal karena kanker paru-paru, akhirnya mau meninggalkan barang itu sedikit demi sedikit.

“Aku lapar,” ujarnya tiba-tiba.

Aku menengok melihat jam dinding di sudut ruangan. Tidak terasa sudah sore. Rasanya kami belum banyak berbicara.

“Kau mau makan apa?” tanyaku seraya melangkahkan kakiku menuju dapur. Semoga masih ada mie instan atau apapun yang tersisa.

Tao mengekor melihat lemari es, “Wuah… kau benar-benar tidak melakukan apapun ya? Kulkasmu kosong begini.”

“Aku pergi belanja dulu,” ujarku lalu mengambil jaket yang tersampir di kursi. “Kau tidak akan pergi kan?”

Tao tersenyum lembut, tapi aku masih tidak yakin. “Janji?”

Tao tersenyum lagi. Kali ini ia mengangkat kelingkingnya ke udara, Janji.

***

“Aku lapar,” laki-laki yang sekarang merebahkan dirinya di sofa itu merajuk. Rasanya baru beberapa jam lalu ia makan.

“Rasanya kita baru saja makan,” ujarku. Tao menekan telunjuknya ke pipiku, mengarahkan pandangan kami pada jam dinding yang dari tadi entah kenapa berjalan sangat cepat.

Ternyata sudah pukul sembilan belas. Aku juga tidak sadar apartemenku gelap gulita. Aku bangun dan menyalakan lampu, “Kau mau makan apa? Masih ada bahan makanan di kulkas.”

“Kau punya cokelat atau makanan kecil? Aku ingin menonton film,”  ia berjongkok di depan televisi memilih satu dari tumpukan dvd di hadapannya.

“Kau bilang kau lapar, tapi ingin makan cokelat. Dasar aneh.”

“Cokelat juga mengenyangkan tahu. Orang-orang yang naik gunung selalu bawa cokelat. Kau tidak punya Kungfu Panda?” ia bertanya selagi memilih -mengacak-acak- tumpukan dvdku.

“Hh, terserah kau saja lah. Kau lupa aku tertidur saat menontonnya bersamamu di bioskop? Untuk apa aku membeli film yang membuatku ngantuk,” ujarku sambil menghempaskan diri ke sofa.

“Tch, Kungfu Panda itu menyenangkan tahu,” katanya yang akhirnya selesai membuat koleksi dvdku berantakan. Entah film apa yang ia pilih, yang pasti bukan horror atau thriller.

Ia mengikutiku duduk di sofa lalu meletakkan tangannya di bahuku, “Mana cokelatnya?”

“Aku hanya punya ini,” aku memberinya sebungkus snack keju yang entah sudah berapa lama ada di lemari makanan. Ia mengangguk lalu membuka kemasannya cepat.

Aku tidak terlalu peduli dengan filmnya. Lebih tepatnya aku mengantuk. Tiba-tiba Tao menaruh tangannya di kepalaku dan meletakkan kepalaku di bahunya. Ini sangat nyaman.

“Tidurlah,” ujarnya lembut. Aroma lemon yang menyelimuti tubuhnya benar-benar kurindukan.  Aku tidak mau tidur sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Tao, sebenarnya kau kemana saja?” tanyaku dengan sangat hati-hati. Aku bisa merasakan Tao mulai tidak nyaman dengan pertanyaanku.

Tapi ia lalu tersenyum, “Aku pulang menemui ayahku.”

“Ayahmu bagaimana? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku lagi. Kali ini lebih hati-hati. Ini terlalu sensitif, tapi aku benar-benar penasaran.

“Mm, dia baik. Aku yang tidak baik,” ia berkata sambil tersenyum memamerkan deretan giginya. Kata-katanya dan ekspresinya kontradiktif, “Percaya padaku. Aku selalu berusaha memperbaiki keadaannya. Aku tidak mau pergi.”

Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang akhirnya basah. Tangannya menggenggam tanganku erat seperti seorang anak yang minta perlindungan. Tidak, ia lebih seperti tawanan yang memohon pengampunan.

Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Yang bisa kulakukan hanya memeluknya dan membisikkan satu kalimat berkali-kali, “Aku percaya padamu, semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Rasanya aneh, televisi di depan kami masih berteriak bahagia. Semua orang bersorak karena tokoh utama bersatu kembali dengan kekasihnya. Tapi di satu sisi kami malah menangis sesenggukan tanpa berhenti. Ironis sekali.

***

Pagi ini aku terbangun tanpa Tao di sisiku. Cari? Kalau membuka tutup beragam pintu di dalam rumah lalu berlari keluar tanpa tahu hendak kemana hingga hampir tertabrak mobil namanya mencari aku sudah melakukannya beberapa saat lalu. Ini bukan kepanikan. Ini namanya… entah apa namanya.

Aku masih berjalan. Masih tidak tahu mau kemana. Masih tidak tau dia dimana. Sampai ponselku bergetar menampilkan nama yang sedari tadi memenuhi kepalaku.

“Halo?” suaranya di ujung sana mengembalikanku pada dunia.

“Kau dimana?”

“Choi Jungwon, kau ada di luar? Kau mengenakan sepatu kan?” kata-katanya sontak membuatku menunduk. Shit.

“Itu tidak penting. Kau dimana sekarang?”

“Dimanapun aku baik-baik saja,” aku memutar pandanganku, mencoba mencarinya. Siapa tahu.

“Ini belum 24 jam,” aku berdalih.

“Makanya aku meneleponmu. 24 jam yang kupinjam akan selesai 20 menit lagi,” angka yang ia ucapkan membuatku pusing. Kenapa sejak kemarin waktu rasanya tidak suka melihat kami bersama hingga berjalan sangat cepat.

Aku bingung. Apa yang harus kukatakan. Tao juga lebih banyak diam. Lebih tepatnya kami belum mengatakan apapun.

“Kenapa diam? Nanti waktumu sia-sia Choi Jungwon,” akhirnya ia berkata memecah keheningan. Tidak bisakah dia saja yang bicara? Aku hanya ingin mendengar suaranya sekarang.

“K-kau mau kemana?” tanyaku pelan.

“Kehatimu?”

“Ini serius, Tao.”

“Aku juga tidak bercanda.”

Diam lagi.

“Aku harus bagaimana?” tanyaku lagi. Tidak peduli lagi menahan kepanikan dalam suaraku.

“Apa yang harus bagaimana?”

Ia terdengar tenang. Bagaimana mungkin ia bisa tenang?

“Kalau kau pergi aku harus bagaimana?” kurasakan tanganku gemetaran.

“Lama kelamaan kau juga akan lupa.” teganya dia.

Mataku panas.

“Kau berpikir begitu?”

Setetes mulai mengalir.

“Aku juga tidak yakin. Makanya aku membawa semuanya. Hapus juga nomorku ya.”

Aku mondar-mandir mencari jalan yang tadi kulalui.

“Tidak mau. Kau juga menghapus fotomu di ponselku. Hanya nomormu yang tersisa.”

Suaraku serak.

“Yasudah, aku saja yang akan menghapus nomormu.” ia berkata dengan nada yang terdengar santai.

“Jahat.”

Tapi aku berdoa semoga dia tidak.

“Memang, makanya setelah ini hapus saja nomorku.” santai, tapi sarat kegetiran.

“Aku masih butuh nomormu,”

Sudah menjadi sungai, aku tutup mataku erat-erat. Setelah aku buka, aku akan bangun dan ini hanya mimpi.

“Untuk apa?” ia bertanya.

“Aku butuh… hanya butuh.”

“Iya, untuk apa?”

Huang ZiTao tolong berhenti bertanya.

Aku menyerah, “Tidak tahu.”

“Dasar,” aku bisa mendengar ia menghela napasnya di sebrang sana.

Kami diam lagi. Aku mulai sesak dengan keheningan ini.

Aku menarik napasku lalu menghembuskannya perlahan, “Tao, bisakah kau tidak pergi?”

Aku yakin ia bernapas dengan berat di sana. Sekarang bahkan aku ingin mendengar helaan napasnya.

“A-aku yakin hal ini akan berjalan baik. Tolong jangan pergi. Aku akan melakukan apapun yang kubisa. Aku bisa bicara pada Kim Young Min sajangnim, atau member exo yang lain, atau…”

Choi Jungwon, ia memotong kata-kataku, “aku sudah berusaha. Ini salahku.”

“Tidak Tao ini bukan salahmu. Ini bukan salah siapa-siapa,” aku berusaha meyakinkannya lagi, “percaya padaku Tao.”

Ia mengehela napasnya lagi, “Choi Jungwon, waktumu tinggal sepuluh detik lagi.”

“Tao, jebal,”

Pipiku adalah samudera. Suaraku adalah badai.

Orang-orang memandangiku seolah kepalaku ada dua.

“Sembilan…”

“Tao aku bisa meyakinkan mereka…”

“…delapan,”

“…Tao aku bisa gila…”

“…tujuh…”

“Huang Zi Tao jangan putuskan panggilan ini…”

“…enam…”

“Tao.. kumohon… jangan…”

“…lima…”

“Huang Zi Tao aku mohon berhenti menghitung.” Tuhan, jangan biarkan ia mengehentikan panggilan ini, kumohon.

“…empat…”

“Tao…”

“…tiga…”

“HUANG ZI TAO BERHENTI. AKU BISA GILA. JANGAN HENTIKAN PANGGILAN INI. DEMI TUHAN BERHENTILAH BERHITUNG!”

“…satu.”

Panggilan terputus.

FIN.

Advertisements

2 thoughts on “Strayed

  1. Sial. Ini pendek dan nyakitin. Angst nya dapet. Sial. Ini sedih. Ending nya ergh. Sial.
    Makasih banyak udah dibikinin :’) dan makasih udah berhasil bikin tao gentle:’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s